DLAGA.COM –
Senja di Lapangan Hijau: Ketika Bintang Sepak Bola Berbuka Puasa di Tengah Pertandingan
Bayangkan skenanya: sebuah pertandingan sepak bola yang intens, jantung berdebar kencang, sorakan penonton menggelegar, dan jam pertandingan terus berdetak. Matahari mulai terbenam, menyisakan bias oranye di cakrawala. Tiba-tiba, di tengah hiruk pikuk itu, seorang pemain bintang, di sela-sela serangan atau saat bola keluar lapangan, berjongkok sejenak di pinggir lapangan. Bukan untuk mengikat tali sepatu atau menerima instruksi, melainkan untuk meneguk air dan melahap sebutir kurma. Ini adalah momen berbuka puasa, sebuah adegan yang kini semakin sering kita saksikan, menandakan perpaduan unik antara dedikasi atletik dan ketaatan spiritual.
Tantangan Ganda: Berpuasa dan Berprestasi
Bagi sebagian besar orang, berpuasa di bulan Ramadan adalah tentang menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga senja. Namun, bagi para pesepak bola profesional Muslim, tantangannya berlipat ganda. Mereka harus menjaga performa puncak, berlari puluhan kilometer, melakukan sprint eksplosif, berduel fisik, dan mempertahankan konsentrasi penuh, semua itu tanpa asupan makanan dan minuman selama berjam-jam.
Ilmu pengetahuan olahraga menunjukkan bahwa dehidrasi dan kurangnya energi dapat secara signifikan mengurangi kinerja atlet. Otot membutuhkan glikogen dari karbohidrat untuk energi, dan tubuh membutuhkan cairan untuk mengatur suhu serta mencegah kelelahan. Oleh karena itu, keputusan untuk tetap berpuasa sambil bertanding di level tertinggi adalah sebuah testimoni luar biasa terhadap kekuatan mental, disiplin diri, dan keimanan yang mendalam. Mereka bukan hanya melawan lawan di lapangan, tetapi juga melawan batasan fisik dan mental diri sendiri.
Momen Iftar yang Sederhana Namun Penuh Makna
Ketika waktu Maghrib tiba di tengah pertandingan, momen berbuka puasa biasanya berlangsung sangat singkat. Wasit atau tim pelatih seringkali telah berkoordinasi untuk memberikan jeda mikro. Terkadang, jeda ini datang saat bola keluar lapangan untuk lemparan ke dalam atau tendangan gawang. Tim medis atau staf klub akan sigap menghampiri pemain dengan botol air, minuman isotonik, dan beberapa butir kurma—makanan tradisional yang kaya energi dan mudah dicerna untuk membatalkan puasa.
Adegan ini seringkali terjadi hanya dalam hitungan detik. Pemain dengan cepat meminum air dan melahap kurma, lalu segera bangkit kembali untuk melanjutkan pertandingan seolah tak terjadi apa-apa. Kesederhanaan momen ini justru membuatnya begitu kuat dan mengharukan. Tidak ada perayaan besar, tidak ada hidangan mewah, hanya kebutuhan dasar yang dipenuhi dengan cepat sebelum kembali ke medan laga. Ini adalah demonstrasi nyata bahwa bagi mereka, ketaatan beragama adalah prioritas yang menyatu dengan profesionalisme.
Inspirasi di Seluruh Dunia
Para pemain seperti Mohamed Salah, Karim Benzema, Sadio Mané, dan N’Golo Kanté hanyalah beberapa dari sekian banyak bintang lapangan yang secara terbuka menjalankan ibadah puasa saat musim pertandingan. Tindakan mereka tidak hanya menginspirasi jutaan penggemar Muslim di seluruh dunia, tetapi juga memicu rasa hormat dari rekan setim, lawan, dan penonton dari berbagai latar belakang.
Momen-momen ini juga membuka dialog dan pemahaman yang lebih luas tentang Ramadan. Klub-klub dan liga-liga besar kini semakin adaptif, dengan beberapa di antaranya bahkan mengatur jadwal pertandingan agar tidak terlalu mengganggu waktu berbuka puasa atau menyediakan jeda khusus untuk iftar. Hal ini menunjukkan pengakuan dan penghormatan terhadap keberagaman budaya dan agama dalam dunia olahraga.
Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Melihat seorang bintang sepak bola berbuka puasa di pinggir lapangan adalah pengingat bahwa di balik sorotan dan gemerlap dunia olahraga, ada dimensi kemanusiaan yang mendalam. Ini bukan hanya tentang gol, kemenangan, atau trofi, tetapi juga tentang nilai-nilai pribadi, keimanan, dan kekuatan karakter.
Momen-momen ini mengajarkan kita tentang dedikasi, tidak hanya terhadap profesi tetapi juga terhadap keyakinan. Mereka menunjukkan bahwa dengan disiplin dan kemauan yang kuat, seseorang dapat mengatasi tantangan fisik yang ekstrem demi memenuhi panggilan spiritual. Bagi banyak orang, adegan singkat berbuka puasa itu adalah pengingat yang kuat akan pentingnya iman, ketekunan, dan identitas diri, baik di dalam maupun di luar lapangan hijau. Ini adalah kisah tentang manusia, bukan sekadar atlet, yang menemukan kekuatan dari dalam untuk terus berlari, bahkan saat senja memanggil untuk berbuka puasa.














