DLAGA.COM –
Momen Haru Penuh Berkah: Ketika Bintang Sepak Bola Berbuka Puasa Bersama Tim di Lapangan Hijau
Sepak bola, lebih dari sekadar olahraga, adalah panggung global yang menyatukan beragam budaya, kepercayaan, dan latar belakang. Di tengah hiruk pikuk kompetisi, sorak-sorai penonton, dan ketegangan laga, ada momen-momen kemanusiaan yang begitu tulus dan mengharukan, salah satunya adalah ketika para bintang lapangan hijau yang beragama Islam berbuka puasa (iftar) bersama tim mereka. Momen ini bukan hanya sekadar memenuhi kewajiban agama, tetapi juga sebuah manifestasi persatuan, toleransi, dan kehangatan yang melampaui batas-batas lapangan.
Tantangan dan Dedikasi Luar Biasa
Bagi seorang pesepak bola profesional, menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan adalah tantangan fisik yang luar biasa. Bayangkan berlari puluhan kilometer, melakoni duel fisik yang intens, dan mempertahankan fokus di bawah tekanan tinggi selama 90 menit atau lebih, tanpa asupan makanan dan minuman sejak fajar. Ini membutuhkan dedikasi, disiplin, dan keimanan yang kokoh. Para pemain ini bukan hanya berjuang untuk kemenangan tim, tetapi juga untuk menjaga integritas spiritual mereka.
Namun, di tengah semua tantangan itu, momen berbuka puasa menjadi oase yang dinanti. Ketika azan Magrib berkumandang, atau peluit akhir babak pertama ditiup tepat di waktu berbuka, seluruh perhatian sejenak beralih dari bola ke seteguk air putih dan sebutir kurma. Momen sederhana ini sering kali direkam kamera dan menjadi viral, menyentuh hati jutaan penggemar di seluruh dunia.
Kehangatan Iftar di Tengah Laga
Salah satu pemandangan paling mengharukan adalah ketika pertandingan dijeda sejenak untuk memberi kesempatan pemain Muslim berbuka puasa. Wasit dengan penuh pengertian meniup peluit, dan para pemain, baik Muslim maupun non-Muslim, berkumpul di pinggir lapangan. Pemain Muslim segera membatalkan puasa mereka dengan air dan kurma yang sudah disiapkan, kadang dibantu oleh staf tim atau bahkan rekan setim non-Muslim yang sigap menyodorkan botol minum.
Gestur ini sangat sarat makna. Ia menunjukkan bagaimana sebuah tim, dengan segala perbedaan latar belakang individunya, mampu bersatu dan saling mendukung. Rekan-rekan setim non-Muslim yang sabar menunggu atau bahkan ikut menemani, tanpa ikut makan, adalah representasi toleransi dan rasa hormat yang mendalam. Mereka memahami bahwa ini adalah momen sakral bagi rekan mereka, dan dukungan mereka adalah bentuk persaudaraan yang tak ternilai.
Potret Persatuan dari Para Bintang
Kita sering melihat potret-potret ikonik yang menjadi viral: Mohamed Salah yang sedang meneguk air di pinggir lapangan setelah peluit tanda berbuka, Karim Benzema berbagi takjil dengan staf tim, atau N’Golo Kanté yang tersenyum saat berbuka bersama rekan-rekannya. Achraf Hakimi, bintang Maroko di PSG, juga sering terlihat berbagi momen iftar yang hangat dengan rekan setimnya. Momen-momen ini tidak hanya terjadi di tengah lapangan saat pertandingan, tetapi juga di sesi latihan, di ruang ganti, atau bahkan saat perjalanan tim.
Klub-klub besar Eropa pun semakin adaptif. Banyak dari mereka menyediakan fasilitas dan akomodasi khusus selama Ramadan, mulai dari koki yang menyiapkan makanan sahur dan iftar yang sesuai, hingga penyesuaian jadwal latihan agar pemain dapat beribadah dengan nyaman. Ini menunjukkan komitmen klub untuk mendukung kesejahteraan spiritual dan fisik pemain, mengakui bahwa performa terbaik datang dari individu yang seimbang dan dihargai.
Lebih dari Sekadar Ritual: Pesan Persaudaraan Universal
Momen berbuka puasa para bintang sepak bola bersama tim mereka adalah lebih dari sekadar ritual keagamaan. Ia adalah sebuah pesan universal tentang persaudaraan, saling menghormati, dan kebersamaan. Di dunia yang sering terpecah belah, lapangan hijau menjadi miniatur masyarakat yang menunjukkan bahwa perbedaan dapat dirayakan, dan dukungan antar sesama manusia adalah kunci kekuatan.
Ini adalah momen-momen yang mengingatkan kita bahwa di balik jersey dan rivalitas, ada manusia dengan keyakinan, harapan, dan kebutuhan yang sama. Momen haru ini menginspirasi, mengajarkan toleransi, dan memperlihatkan sisi kemanusiaan yang paling indah dari dunia sepak bola. Sebuah pengingat indah bahwa olahraga memiliki kekuatan untuk menyatukan, bahkan di saat-saat paling personal sekalipun.














