DLAGA.COM –
Lebih dari Gol: Bintang Sepak Bola Muslim Menginspirasi Dunia di Bulan Ramadan
Bulan Ramadan adalah periode suci bagi umat Muslim di seluruh dunia, yang ditandai dengan ibadah puasa, refleksi diri, dan peningkatan spiritualitas. Namun, bayangkan tantangan ini dihadapi oleh seorang atlet profesional, khususnya bintang sepak bola yang harus menjaga performa puncak di lapangan hijau. Di tengah sorotan jutaan pasang mata, para bintang lapangan hijau ini menunjukkan bahwa iman dan dedikasi bisa bersanding harmonis dengan tuntutan fisik yang ekstrem, bahkan menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang.
Tantangan Ganda: Fisik dan Spiritual
Sepak bola modern menuntut kondisi fisik prima, stamina tanpa batas, dan fokus mental yang tak tergoyahkan. Pemain harus berlari puluhan kilometer per pertandingan, melakukan sprint, tekel, melompat, dan berpikir cepat selama 90 menit penuh. Saat Ramadan tiba, bagi pemain Muslim, tantangan ini berlipat ganda. Mereka harus berpuasa dari fajar hingga senja, menahan lapar dan dahaga, sementara jadwal latihan dan pertandingan tetap berjalan seperti biasa.
Ini bukan sekadar uji fisik, melainkan juga uji keteguhan spiritual. Bagaimana mereka bisa tetap prima, bahkan mencetak gol-gol krusial, saat tubuh mereka tidak menerima asupan makanan dan minuman selama berjam-jam? Jawabannya terletak pada disiplin diri yang luar biasa, persiapan yang matang, dan kekuatan iman yang mendalam. Mereka membuktikan bahwa batasan fisik bisa diatasi dengan kekuatan mental dan spiritual.
Mohamed Salah: Ikon Global Kedewasaan Iman
Salah satu nama yang paling sering disebut ketika membahas bintang sepak bola Muslim adalah Mohamed Salah. Penyerang Liverpool dan kapten tim nasional Mesir ini bukan hanya dikenal karena kecepatan, kelincahan, dan kemampuannya mencetak gol, tetapi juga karena ekspresi keislamannya yang terbuka dan positif. Setiap kali mencetak gol, Salah seringkali melakukan sujud syukur di lapangan, sebuah gestur yang telah menjadi ikonik dan dikenal di seluruh dunia.
Selama Ramadan, Salah menunjukkan dedikasi yang tak tergoyahkan. Ia tetap berpuasa meskipun jadwal pertandingan dan latihan yang padat. Dalam sebuah wawancara, ia pernah menyatakan bahwa puasa memberinya kekuatan mental dan spiritual, meskipun secara fisik terasa berat. "Ini sulit, karena Anda harus latihan dua kali sehari, tetapi saya tidak punya masalah dengan itu," katanya. "Ini adalah hal yang penting bagi saya."
Lebih dari sekadar puasa, Salah juga dikenal dengan kedermawanannya. Ia seringkali menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk kampung halamannya di Nagrig, Mesir, membangun sekolah, rumah sakit, dan membantu masyarakat miskin. Melalui tindakan dan ketabahannya, Salah menjadi duta tak resmi yang menunjukkan wajah Islam yang damai, penuh dedikasi, dan sukses di panggung global, sekaligus mematahkan stereotip negatif.
Sadio Mané: Kerendahan Hati dan Semangat Berbagi
Berbeda dengan Salah yang flamboyan, Sadio Mané dari Senegal dikenal dengan kerendahan hati dan kesederhanaannya yang luar biasa. Mantan penyerang Liverpool dan kini bermain untuk Al-Nassr ini adalah contoh nyata bagaimana kesuksesan finansial tidak mengubah nilai-nilai inti dan keimanan seseorang.
Mané secara terbuka menjalankan ibadah puasa selama Ramadan, bahkan saat ia masih bermain di liga top Eropa. Ia dikenal sebagai pribadi yang sangat religius dan dermawan. Kisah-kisah kedermawanannya seringkali muncul tanpa sengaja, terekam kamera sedang membersihkan toilet masjid di Liverpool atau membangun sekolah, rumah sakit, dan masjid di kampung halamannya, Bambali, Senegal. Ia bahkan membagikan ponsel dan seragam kepada anak-anak di sana.
"Mengapa saya menginginkan sepuluh Ferrari, dua puluh jam tangan berlian, atau dua pesawat terbang?" tanyanya dalam sebuah wawancara. "Saya lapar, dan saya harus bekerja di ladang; saya selamat dari perang, bermain sepak bola tanpa alas kaki; saya tidak punya pendidikan dan banyak hal lain, tetapi hari ini dengan apa yang saya hasilkan, saya bisa membantu orang-orang saya." Kata-kata ini menggambarkan filosofi hidup Mané yang mengakar pada ajaran Islam tentang berbagi dan membantu sesama, yang semakin diperkuat di bulan Ramadan.
Inspirasi Universal dari Ketabahan dan Kedermawanan
Selain Salah dan Mané, nama-nama lain seperti Karim Benzema, Riyad Mahrez, hingga N’Golo Kanté juga seringkali menunjukkan dedikasi mereka terhadap ajaran Islam, termasuk saat bulan Ramadan. Mereka semua adalah contoh nyata bahwa iman dan profesionalisme dapat berjalan beriringan, bahkan saling menguatkan.
Lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, Ramadan mengajarkan disiplin diri, empati, dan pentingnya berbagi. Para bintang sepak bola Muslim ini tidak hanya menginspirasi umat Muslim untuk lebih taat beribadah dan berpuasa, tetapi juga mengirimkan pesan universal tentang ketekunan, integritas, dan kedermawanan kepada seluruh dunia.
Kisah-kisah inspiratif dari para bintang sepak bola Muslim ini mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada fisik yang prima, tetapi juga pada kekuatan iman dan ketulusan hati. Di bulan Ramadan, mereka menjadi pengingat yang kuat bahwa dengan keyakinan yang teguh dan kerja keras, batasan-batasan dapat diatasi, dan kita semua dapat menjadi agen perubahan positif, baik di lapangan hijau maupun di kehidupan nyata. Mereka adalah pahlawan bukan hanya karena gol-gol yang mereka cetak, tetapi karena nilai-nilai luhur yang mereka junjung tinggi.


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4430454/original/019533300_1684257474-20230516-Momen_Podium-AFP_3.jpg?ssl=1)





:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4430454/original/019533300_1684257474-20230516-Momen_Podium-AFP_3.jpg?resize=85,85&ssl=1)





