DLAGA.COM – Persebaya Surabaya, yang dikenal sebagai salah satu klub sepak bola terbesar di Jawa Timur, kini menghadapi tantangan baru dalam performanya. Meski memiliki basis pendukung yang luar biasa, yaitu Bonek, tim asuhan Bernardo Tavares justru menunjukkan penurunan kualitas saat bermain di kandang sendiri. Fakta ini menjadi perhatian serius bagi para penggemarnya.
Data Menunjukkan Performa yang Tidak Konsisten
Dari 11 pertandingan kandang musim ini, Persebaya hanya mampu meraih lima kemenangan, tiga hasil imbang, dan tiga kekalahan. Rata-rata poin yang dikumpulkan adalah 1,64 per pertandingan. Padahal, stadion Gelora Bung Tomo (GBT) selalu dipenuhi oleh rata-rata 16.632 Bonek yang memberikan dukungan luar biasa. Namun, tampaknya semangat tersebut tidak cukup untuk memengaruhi hasil pertandingan.
Sebaliknya, ketika Persebaya bertanding di luar kandang, performa mereka jauh lebih stabil. Dari 10 kali melawat ke markas lawan, mereka sukses mencuri empat kemenangan, lima hasil seri, dan hanya satu kekalahan. Rata-rata poin yang diraih adalah 1,70 per pertandingan. Hal ini menunjukkan bahwa anak asuh Persebaya lebih efisien dan disiplin saat berada di luar kandang.
Bhayangkara FC Jadi Mimpi Buruk
Bukti teranyar dari rapuhnya performa kandang Persebaya terjadi pada Sabtu (14/2/2026). Tim asuhan Bernardo Tavares harus tertunduk malu setelah dikalahkan Bhayangkara FC dengan skor tipis 1-2 di rumah sendiri. Gol-gol yang tercipta berasal dari aksi Henry Doumbia pada menit ke-26 dan Moussa Sidibe pada menit ke-42+5. Gol balasan Mihailo Perovic pada menit ke-44 tidak cukup untuk menyelamatkan wajah tim dari kekalahan pahit di depan ribuan pendukung setia.
Kritik dari Bonek Terhadap Jersey Merah
Kekalahan ini memicu kritik dari Bonek, pendukung setia Persebaya. Mereka menyindir penggunaan jersey merah dalam pertandingan tersebut. Beberapa anggota Bonek menyampaikan keluhan melalui media sosial, menilai bahwa warna jersey merah tidak memberikan energi positif bagi tim. Mereka berharap agar manajemen klub segera meninjau ulang desain jersey untuk meningkatkan semangat para pemain.
Penilaian Pelatih Bernardo Tavares
Meski ada kritik, pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, tetap optimistis. Ia mengakui bahwa tim sedang menghadapi tantangan besar, tetapi yakin bahwa mereka bisa bangkit. “Kami akan belajar dari kesalahan ini dan terus berjuang untuk memperbaiki performa,” ujarnya dalam wawancara singkat dengan media lokal.
Masa Depan Persebaya
Dengan situasi seperti ini, banyak pihak mulai mempertanyakan strategi yang digunakan oleh Persebaya dalam menjalani pertandingan kandang. Apakah faktor psikologis atau teknis yang menjadi penyebab utama? Pertanyaan ini masih terbuka, namun yang jelas, Persebaya membutuhkan perbaikan signifikan jika ingin kembali menjadi kekuatan dominan di Super League. ***















